DEBUS DAN SAINS
DALAM
SPIRITUALISME ISLAM
OLEH : H.G.Prawirasubardjah
SEJARAH
Debus secara umum diartikan
seseorang dengan kemampuan personalnya yang dapat melakukan olah bathin
sehingga tubuh menjadi “kebal” terhadap benda tajam atau zat lain yang dapat
merusak jaringan tubuh,- pertama kali dalam sejarah umat manusia fenomena
kekebalan tubuh muncul ketika Nabi Ibrahim AS dibakar kobaran api, anehnya panas
api menjadi dingin dan tidak mampu membakar Ibrahim, AS. Pada masa sekarang
seperti di India orang bisa berjalan diatas bara api dengan kaki telanjang
tanpa luka,- dalam masyarakat Indonesia
keahlian mempertahankan diri seperti itu dimulai ketika Wali Songo dengan
semangat penyebaran Islam di tanah jawa, yang menarik tujuannya untuk mengimbangi kemampuan sebagian
masyarakat pada masa itu terhadap ilmu ”kanuragan” peninggalan kebudayaan Hindu,
yang sampai saat ini masih sering dipraktekan dalam acara seni budaya di Bali misalnya,
dengan menusukan keris kedalam tubuh, hal yang sama dilakukan masyarakat di
hampir semua suku bangsa di Indonesia.
Tersohor di seantero
tanah air tentu saja debus Banten dengan segala corak dan keunikannya, dalam kesadaran
penuh seorang ”jawara”, demikian orang biasa menyebut, mampu melukai tubuh dan dengan
segera merekatnya kembali, memotong
lidang dan nyambung lagi, atau melukai diri tanpa luka dan seterusnya. hal ini bisa
dilakukan karena ”bekal” keimanan yang sangat tinggi kepada Allah SWT, sebagaimana
menurut teori emanasi Platonius (205-270), Al-Farabi (870-950) dan Ibnu-Sina
(980-1037) yang mendefinisikan segala sesuatu ”yang ada” memancar dari dzat
yang satu, yakni Tuhan. Filsafat emanasi mengajarkan bahwa asal mula penciptaan
alam adalah dengan cara mamancar atau pelimpahan dari yang satu. Yang asal itu pastilah
Tuhan, berarti alam beserta seluruh isinya adalah menjadi bagian dari Tuhan,
meski bukan berarti dapat dikatakan bahwa alam adalah Tuhan, karena makin jauh
penciptaan sesuatu dari yang satu, makin jamak dan tak sempurna wujudnya.
Berbeda dengan sihir
yang menurut sifatnya adalah persekutuan manusia dengan setan, perbuatan mana
dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan berakibat jahat terhadap diri seseorang
yang terkena dampak sihir, sementara debus dahulu dilakukan untuk
mempertahankan diri/keyakinan dan Negara dari gangguan musuh, pada pra
kemerdekaan Indonesia praktek-praktek semacam ini kerap dilakukan Ulama dengan
memberi “air doa” untuk menumbuhkan semangat dan kekuatan kepada muridnya bertempur
melawan penjajah Belanda, sebut saja peristiwa “Geger Cilegon” di Banten
pimpinan KH Wasid (1888), serta banyak lagi pemberontakan sejenis meluas di
Nusantara dengan semangat fii sabilillah.
Namun dalam
perkembanganya debus berubah menjadi kegiatan seni untuk mempertahankan budaya
yang menjadi salah satu ciri khas bangsa Indonesia,- sejatinya seni kekebalan
tubuh dari manapun asalnya dan dimanapun keberadaannya tidak pernah tercerabut
dari akar budayanya, yaitu adanya peran sentral agama sebagai satu-satunya sumber
kayakinan.
ATOM
Kini peran sentral agama
sebagai sumber hakiki untuk menumbuhkan keimanan (baca:keyakinan) kepada Allah dan capaian sugesti diri sampai tahap
”kebal”, sains sebagai sumber pemahaman tambahan, perlu menjadi referansi agar
ilmu debus tidak berada dalam dimensi tahayul, misterius, aneh, atau ghaib
semata,- apalagi tergelincir dalam batas keadaan mempersekutukan Tuhan,-karena ilmu-ilmu
tadi diyakini tidak bertentangan dengan akidah yang berlaku dalam Islam,
bersumber dari Ilmu Allah yang meretas dalam ilmu pengetahuan dan teknologi
yang dapat dipahami akal kognitif.
Seperti telah kita
ketahui bahwa tubuh manusia, terdiri dari struktur atom yang jumlahnya tak
terhingga, bagaimana sekumpulan atom berkombinasi satu sama lain dan bergerak
dengan kecepatan 1.000 km/detik membentuk materi yang mampu dijamah. Didalam
atom terdapat sebuah sistem tanpa cacat, unik, dan kompleks yang kecanggihannya
sebanding dengan sistem yang kita tau secara umum di jagat raya. Dalam setiap
atom terbuat dari inti dan sejumlah elektron yang bergerak mengitari orbitnya
dengan jarak yang sangat jauh dari inti, seperti jarak antar planet dalam
sistem tata surya.
Pertanyaannya bila
sebagian besar volume atom merupakan ruang kosong yang jaraknya sangat jauh,
mengapa kumpulan atom bisa memadat? Jawabanya pemadatan tidak bergantung pada
ada tidaknya ruang kosong dalam partikel, akan tetapi terdapat medan listrik
antar partikel. Tangan kita tidak bablas sewaktu diletakan diatas meja, karena
ada tolakan listrik yang diterima elektron-elektron atom ditangan kita dari
elektron-elektron atom meja, bukan karena tidak ada celah lagi bagi elektron
untuk meneruskan gerakan untuk menembus meja. Medan elektrik ini tidak hanya
membuat milyaran atom dapat membentuk materi dan bisa dijamah, dalam arti tidak
bisa ditembus satu sama lain, tapi medan listrik ini pun membuat atom dan sub
atomik saling melekat,- Untuk mengubah keadaan yang sangat normal ini, harus
ada yang mampu mengalahkan kekuatan medan eletrik antar atom, yaitu ”energi
murni”.
TEKNOLOGI
DEBUS
Ketika sebilah golok
menghujam tubuh seseorang, secara awam kulit berikut daging yang menempel dalam
badan akan terkoyak dan mengeluarkan darah segar, namun berkat keilmuan Allah
seseorang akan mampu kebal terhadap ketajaman golok, dengan mengkonsentrasikan
dirinya pada dzat yang satu, yakni Tuhan, yang denganya ”energi murni” dapat
menyeruak mempengaruhi gaya elektromagnetik atom dan sub atomik dalam tubuh
untuk memperbesar tarikan elektron-elektron,- bukan berarti benda tajam tidak
mampu merobek jaringan kulit, tapi sebilah golok setajam apapun akan memantul
akibat tolakan elektron dari tubuh dan tolakan yang didapat dari tajamnya
golok.
Hal itu bisa dicapai
akibat struktur otak manusia yang berbeda dengan otak binatang,- otak manusia memiliki
”amigdala” yang berperan seperti security, dengan operator yang siap siaga
mengirimkan panggilan darurat ke pusat syaraf untuk isyarat bahaya, termasuk
mengirimkan sinyal sejumlah hormon neoropinefrin untuk mempertajam reaktifitas
wilayah-wilayah otak penting agar seluruh aktifitas partikel atom tubuh bekerja
dalam batas yang toleran dengan misi otak,- jika ingin kebal terhadap benda
tajam, energi yang diperintah syaraf otak sebagai hasil kontemplasi dzikir hati,
akan memperlambat gerak atom menjadi kurang sedikit dari 1.000 km/detik dan mengakibatkan
materi makin padat dengan memperkokoh tolakan elektron yang saling merekat,- namun
jika menginginkan jaringan kulit yang robek karena benda tajam, kembali utuh,
harus ada intervensi dengan menggunakan energi murni dan ”air” yang telah
diberi doa tertentu yang dilepas melalui tangan atau semburan dari mulut misalnya.
Mengapa para Ulama tak
terkecuali debus menggunakan air sebagai media? Ketika meneliti khasiat air
Zam-zam di Makkah, DR. Masaru
Emoto, Dalam bukunya ”The True Power Of
Water”, air memiliki sifat sensitif namun juga reaktif. Jika dibacakan
padanya kata-kata yang baik, air akan bereaksi positif. Sebaliknya jika
diberikan kata-kata buruk, maka air juga akan bereaksi sesuai sifat dan makna
kata-kata tersebut, dimana menurutnya lagi keunikan air digambarkan sebagai
sebuah kristal yang bisa berstruktur indah heksagonal atau segi-enam atau bisa
seperti kristal pecah tak beraturan.
Label baik atau buruk
inilah yang akan menentukan model kristal bakal terbentuk nantinya,-nah energi
yang dilepas dengan bantuan air inilah yang kemudian dapat mempercepat proses
pembentukan sel baru yang dihasilkan dari pembelahan sel, bergerak dari bagian
dalam kulit menuju kepermukaan luar, sembari merubah unsur cair sitoplasma menjadi
protein kuat yang disebut keratin, dengan segera jaringan kulit yang robek
mampu merekat kembali dengan utuh.
Ilmu sangat tinggi yang hanya
mampu dilakukan manusia dalam tingkatan ”maqam” yang tak ”bermaqam”, adalah jika
tubuh ingin berkemampuan menembus benda lain dan memisahkan unsur unsur atom
elementer untuk melepaskan diri dalam dimensi ruang-waktu, maka sirkuit
amigdala harus mengirimkan pesan kepada seluruh pusat otak agar gerak atom dipercepat
melebihi 1.000 km/detik, dan memperlemah gaya elektron-elektron, maka keadaan
yang tampak mustahil akan terjadi.
Dalam tulisan ini kita
tidak hendak membahas lebih jauh ilmu fisika dengan kaidah mekanika kuantum
yang mengatakan bahwa gelombang cahaya datang dalam paket-paket kecil atau
kuanta, yang disebut foton, atau berdiskusi soal fisika partikel, seperti
energi perekat yang mengikat partikel elementer (quark, penyusun proton dan
neutron) yang membuat inti atom menjadi sangat padat dan seterusnya. Akan
tetapi coba merenungkan bagaimana Tuhan semesta alam, Allah SWT menciptakan
jagat raya dengan perencanaan yang sangat canggih dan detail, tanpa cacat,
mutlak, dan diluar nalar manusia. Dengan teori emanasi memungkinkan kita
sebagai manusia menggunakan potensi diri yang begitu besar dengan sebaik mungkin,
seni debus hanya sebutir garam dari ilmu Allah yang tak terhingga.-Wallahu’alam.